
Ghunnah merupakan hukum tajwid yang berkaitan dengan bacaan mim dan nun bertasydid, di mana keduanya dibaca dengan suara dengung yang keluar dari hidung sepanjang dua harakat. Dalam kitab Ghayat al-Murid fi Ilm at-Tajwid, ghunnah didefinisikan sebagai suara khusus yang dihasilkan saat membaca huruf mim atau nun dengan tasydid, yang keluar melalui hidung. Kitab al-Burhan fi Tajwid al-Quran karya al-Shadiq Qardhawi juga menjelaskan ghunnah sebagai “suara dengung yang melekat pada bentuk huruf nun dan mim,” yang menunjukkan bahwa dengung ini bersifat tetap pada kedua huruf tersebut.
Berikut adalah beberapa contoh ayat dalam Al-Qur’an yang mengandung hukum bacaan ghunnah karena adanya mim atau nun bertasydid:
- Surah Abasa ayat 5
أَمَّا مَنِ ٱسْتَغْنَىٰ
Ammā manistagnā.
Alasan: Terdapat mim bertasydid (مّ).
- Surah An-Naba ayat 1
عَمَّ يَتَسَآءَلُونَ
‘Amma yatasā`alụn.
Alasan: Terdapat mim bertasydid (مّ).
- Surah Al-Kausar ayat 3
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلْأَبْتَرُ
Inna syāni`aka huwal-abtar.
Alasan: Terdapat nun bertasydid (نّ).
- Surah An-Nazi’at ayat 1
وَٱلنَّٰزِعَٰتِ غَرْقًا
Wan-nāzi’āti garqā.
Alasan: Terdapat nun bertasydid (نّ).
- Surah Yasin ayat 31
الْقُرُوْنِ اَنَّهُمْ اِلَيْهِمْ لَا يَرْجِعُوْنَ
al-qurụni annahum ilaihim lā yarji’ụn.
Alasan: Terdapat nun bertasydid (نّ).
- Surah An-Nisa’ ayat 1
يٰۤـاَيُّهَا النَّا سُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ
Yā ayyuhan-nāsuttaqụ rabbakum…
Alasan: Terdapat nun bertasydid (نّ).
Dalam setiap contoh di atas, bacaan mim atau nun bertasydid memerlukan suara dengung selama dua harakat, sesuai dengan kaidah ghunnah dalam tajwid.