Metode dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah Thorikoh yang berarti langkah-langkah strategis yang dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan. Bila dihubungklan dengan pendidikan maka haruslah diwujudkan atau terwujud dalam bentuk pendidikan, dalam rangka mengembangkan suatu sikap mental dan kepribadian agar peserta didik menerima pelajaran dengan mudah, efektif dan dicerna dengan baik.[1] Definisi metode menurut para ahli adalah sebagai berikut:
- Al-Ahrasy mendefinisikan metode adalah jalan yang kita ikuti untuk memberikan pengertian kepada peserta didik tentang segala macam metode dalam berbagai pelajaran.
- Rahman Ghunaimah berpendapat bahwa metode merupakan sebuah cara-cara yang praktis dalam mencapai tujuan pendidikan.
- Hasan Langgulung mneyebutkan bahwa metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan pendidikan.[2]
Dalam memilih metode yang tepat ada empat prinsip umum dalam menentukan langkah metode pembelajaran, di antaranya:
- Berorientasi pada aktivitas peserta didik
- Berorientasi pada tujuan pembelajaran
- Berorientasi pada individualitas
- Berorientasi pada integritas.[3]
Metode adalah suatu cara atau prosedur yang ditempuh oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran. Metode adalah jabaran dari pendekatan. Satu pendekakatan bisa dijabarkan kedalam berbagai metode pembelajaran. Metode pembelajaran bisa dikatakan sebuah cara yang dipergunakan dalam pengimplementasian rencana yang telah disusun dalam suatu kegiatan nyata untuk mencapai tujuan pembelajaran. [4]
Salah satu faktor yang mendukung seseorang lebih mudah dan lebih cepat dalam menghafal Al-Qur’an adalah penggunaan metode yang tepat dan bervariasi. Hasil hafalannya pun tidak mudah lupa. Guru taḥfiẓ hendaknya menguasai seluruh metode pembelajaran taḥfiẓ Al-Qur’an dan menerapkannya secara bergantian. Selain itu faktor yang mendukung seseorang lebih mudah dan tidak bosan dalam menghafal Al-Qur’an adalah penggunaan metode yang tepat. Bagaimanapun metodenya menghafal Qur’an yang baik itu harus menyetorkan hasil hafalannya kepada gurunya, inilah dinamakan dengan Talaqqi/Musyafahah (tatap muka/face to face). Walaupun dalam metode menghafal sama dengan beberap model pembelajaran lainnya, namun dalam model pembelajaran taḥsin dan taḥfiẓ Al-Qur’an berbasis irama nahâwand ini harus dimulai dengan Surah Al-Fatihah kemudian ke Surah Annas bukan dimulai dari surah annaba. Hal ini dikarenakan dalam model yang dikembangkan memberikan keringanan agar penghafal memulai hafalannya dari surah yang pendek terlebih dahulu. Inilah yang membedakan dengan model pembelajarnnya. Sebagaimana ungkapan Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu bahwasannya menghafal Qur’an agar lebih mudah dimulai dari surah-surah yang pendek.[5]
Berdasarkan hal tersebut maka kedudukan metode dalam pembelajaran mempunyai ruang lingkup sebagai cara dalam:
- Pengungkap tumbuhnya minat belajar, yaitu cara dalam menumbuhkan rangsangan untuk tumbuhnya minat belajar warga belajar yang didasarkan pada kebutuhannya.
- Pemberian dorongan, yaitu cara yang digunakan sumber belajar dalam rangka memberikan dorongan kepada warga belajar untuk terus mau belajar.
- Penyampaian bahan belajar, yaitu cara yang digunakan sumber belajar dalam menyampaikan bahan dalam kegiatan pembelajaran.
- Pencipta iklim belajar yang kondusif, yaitu cara untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi warga abelajar untuk belajar.
- Pendorong untuk penilaian diri dalam proses dan hasil belajar, yaitu cara untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran.
- Tenaga untuk melahirkan kreativitas, yaitu cara untuk menumbuhkan kreativitas warga belajar sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
- Pendorong dalam melengkapi kelemahan hasil belajar, cara untuk untuk mencari pemecahan masalah yang dihadapi dalam kegiatan pembelajaran.
- Pendorong untuk penilaian diri dalam proses dan hasil belajar, yaitu cara untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran.[6]
Setelah selasai menghafal ayat Qur’an dengan basis irama nahâwand, santri harus tetap menyetorkan bacaan Qur’annya/ hafalannya, inilah alasan mengapa pembelajaran taḥsin dan taḥfiẓ tidak bisa dipisahkan. Pembelajaran taḥsin dan taḥfiẓ Al-Qur’an berbasis irama nahâwand ini menawarkan beberapa metode menghafal yaitu metode Sima’i (memperdengarkan Al-Qur’an), metode Resitasi (pemberian tugas menghafal), metode setoran, metode Muraja’ah/Takrir (mengulang hafalan secara terencana), metode menghafal sendiri, metode Mudarasah (metode menghafal secara bergantian/saling menyimak antar siswa), dan metode Tafhim (menghafal dengan cara memahami makna ayat). Seluruh metode ini tentunya akan dibaca dengan irama nahâwand. Adapun teknik penerapan metodenya dijelaskan pada sub berikutnya.
[1] Ramayulis, Metode Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2005), 2-3.
[2] Ramayulis, Metode Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2005), 2-3.
[3] Isnu Hidayat, Srategi Pembelajaran Populer (Yogyakarta: Diva Press, 2019), hlm.62.
[4] Suyadi, Strategi Pendidikan Karakter (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2013), 16.
[5] Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, Bimbingan Islam Untuk Pribadi dan Masyarakat, Terj, Abdul Muhith Abdul Fatah et al, (Jakarta: Sarul Haq, 2016), 92
[6] Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2010), 71.




