1. Metode Sima’i (memperdengarkan Al-Qur’an)
Sebelum mulai menghafal santri akan diajarkan taḥsin dengan cara diperdengarkan terlebih dahulu cara baca ayat yang akan dihafal oleh pembimbing taḥfiẓ/ isntruktur. Biasanya di pesantren taḥfiẓ ada istilah belajar Qur’an binnaẓar, maka dalam model ini akan dilakasanakan belajar Qur’an bin Naẓar dengan irama nahâwand. Runtut dari surah Al-Fâtihah, juz 30 dilanjut Surah Yâsin, Ar-Rahman, Al-Wâqi’ah dan Al-Mulk. Setelah selsai menghafal surah-surah tersebut baru kemudian dilanjut ke juz 1. Bagaimanapun cara ini harus dikenalkan langsung kepada para pembimbing taḥfiẓ atau instruktur dengan langsung mendatangi kelembaga atau pondok pesantren tersebut. Berikut adalah salah satu contoh cara penyampaian materi pembelajaran taḥsin dan taḥfiẓ metode sima’i dengan irama nahâwand yang akan pembimbing perdengarkan kepada para santri:
| اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
Nada naik (takeoff) بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ nada turun landing |
|
| Nada naik (takeoff)
Diulang-ulang sampai benar-benar hafal |
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ |
| Nada Datar/ gantung (play)
Diulang sampai hafal kemudian digabungkan bacaannya dengan ayat sebelumnya |
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ |
| Nada turun landing
Diulang-ulang sampai hafal kemudian digabungkan bacaannya dari ayat 1 |
مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ |
| Nada naik (takeoff)
Diulang-ulang sampai hafal kemudian digabungkan bacaannya dari ayat 1
|
اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ |
| Nada Datar/ gantung (play)
Diulang sampai hafal kemudian digabungkan bacaannya dari ayat 1 |
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ |
| Nada turun landing
Diulang-ulang sampai hafal kemudian digabungkan bacaannya dari ayat 1 |
صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ |
Cara membaca surah Al-Fâtihah dengan irama yang sudah ditentukan tersebut, bukan hanya diperdengarkan tingkatan iramanya saja tetapi juga bagaimana cara melafalkan huruf Al-Qur’an sesuai dengan tempat keluarnya huruf (makhorijul huruf), dalam proses inilah taḥsin diterapkan. Contoh penerapan taḥsin:
Pembimbing taḥfiẓ menjelaskan cara membaca pertama dalam ayat yaitu huruf ب: Huruf ب adalah ruruf yang keluar dari bibir (as-shafatain). Pembimbing menjelaskan huruf yang dikenai hukum tajwid. Tentu dari huruf yang lebih awal dikenai hokum tajwid terlebih dahulu:
اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
Dalam Lafadz tersebut terkandung hokum tajwid: Lafadz بِاللهِ tersebut huruf ل nya harus dibaca tipis karena masuk dalam hukum lafdzul jalalah tarqiq, dengan alasan sebelum lafadz اللهdan huruf yang dibaca kasroh ( (بِا. Kemudian dilanjut pada lafadz berikutnya yang berhukum tajwid sesuai dengan nomor ayat.
- Metode Resitasi (Pemberian Tugas Menghafal)
Penerapan metode resitasi dilakukan jika calon penghafal sudah dinyatakan bagus bacaan Al-Qur’an nya atau dikatakan bagus taḥsinnya. Ini dilihat oleh instruktur atau pembimbing taḥfiẓ, ketika santri melafalkan ayat-ayat dengan baik setelah mendengarkan bacaan gurunya, maka santri tersebut akan ditugaskan untuk menghafal. Dalam model ini, santri yang ikut proses pembelajaran harus santri yang sudah khatam Iqro atau santri yang sudah beranjak mengaji kedalam Al-Qur’an . Adapun santri yang belum khatam bacaan iqronya atau yang sejenis, maka belum bisa mengikuti proses pembelajaran metode resitasi ini atau tidak bisa diizinkan untuk menghafal.
2. Metode Menghafal Sendiri
Metode ini maksudnya adalah santri diberikan kebebasan untuk mengafal masing-masing ketika guru/ pembimbing sudah mengizinkan untuk menghafal. Tentunya santri akan mulai menghafal sesuai dengan cara masing-masing, mencari tempat yang nyaman sesuai dengan keinginan masing-masing dn menghafal ayat sesuai dengan kemampuannya. Tetapi bagaimnapaun cara santri menghafal harus berpatokan dengan apa yang sudah diajarkan gurunya, termasuk didalamnya adalah iramanya.
3. Metode Setoran Hafalan
Metode ini berupa interaksi lansung antara guru pembimbing dengan santri dimana santri menyetorkan hafalan kepada Guru. Santri membaca dan guru mendengarkan. Setiap santri yang menghafalkan Al-Qur’an wajib menyetorkan hafalannya kepada seorang guru, pengurus atau pembimbing. Dengan tujuan, agar bisa diketahui letak kesalahan ayat-ayat yang dihafalkan. Dengan menyetorkan kepada sang guru, maka akan mengetahui letak kesalahan ketika sudah selesai melakukan ziyadah. Kesalahan tersebut misalnya berupa bacaan makharijul huruf, mad (panjang), qaṣar (pendek), letak waqaf dalam ayat-ayat panjang, dan lain sebagainya. Untuk itu, seorang santri janganlah sembarangan memilih guru atau pembimbing yang akan dijadikan untuk menyetorkan hafalannya. Hendaknya, beliau seorang hafiẓ atau hafiẓah Al-Qur’an, terkenal agamanya, alim, serta pandai menjaga dirinya dari perbuatan buruk dan maksiat.
4. Metode Muraja’ah/Takrir (Mengulang Hafalan Secara Terencana)
Program mingguan di akhir pekan dalam model pembelajaran ini digunakan untuk takrir/muraja’ah. Muroja’ah merupakan proses mengulang-ulang hafalan lama yang sudah pernah dihafal sebelumnya. Para hafiẓ biasanya memuroja’ah hafalan Al-Qur’an per surat atau ayat yang sudah dihafal sebanyak beberapa kali. Metode muraja’ah merupakan salah satu cara yang dilakukan untuk selalu mengingat hafalan atau melestarikan dan menjaga kelancaran hafalan dengan senantiasa megulang-ulang ayat atau surat yang telah dihafal.
Dalam pelaksanaannya diluar proses pembelajaran, muraja’ah hafalan Al-Qur’an adalah dengan membaca atau melihat muṣḥaf dan tanpa melihat muṣḥaf. Kewajiban utama penghafal Al-Qur’an adalah ia harus mengulang hafalan setiap harinya dengan memilih waktu yang tepat seperti:
- Dalam salat lima waktu dan salat sunah
- Setelah salat 5 waktu dan salat sunah
- Sebelum tidur malam lakukan persiapan terlebih dahulu dengan membaca dan menghafal satu halaman secara santai.
- Muraja’ah sambil menyimak hafalan santri, atau menyimak bacaan Al-Qur’an dengan basis audio digital sambal mengikuti bacaannya.
- Di waktu-waktu yang sekiranya dianggap senggang oleh para hafiẓ.
Diantara ranah guna menggapai kesuksesan menghafalkan Al-Qur’an ialah bagaimanakah strategi untuk menghafalkannya. Strategi yang tepat dapat memberi perolehan yang tepat pula. Strategi ini pastilah didapati pada institusi yang menjadikan hafalan Al-Qur’an sebagai programnya. Program tersebut umumnya kita kenali dengan taḥfiẓul Qur’an yang dirancang dengan khusus guna mentadaburi Al-Qur’an .[1] Adapun strategi muroja’ah yang diterapkan dalam model pembelajaran ini adalah sebagai berikut:
1). Strategi Takrir
Santri mengulang-ulang hafalan yang telah didapatkannya, kemudian membaca hafalan tersebut di hadapan guru untuk dikoreksi. Dalam mengulang hafalan yang baik, santri mengulang yang sudah pernah dihafalkan atau sudah disetorkan kepada guru/pembimbing secara terus-menerus dan istiqamah. Ini dilakukan diakhir pekan pada hari minggu sore atau pada hari jumat sore. Penerapannya bisa memilih diantara dua hari tersebut.
2). Strategi Mendengarkan (Tasmi’)
Sima’an Al-Qur’an atau tasmi’ (memperdengarkan hafalan kepada orang lain), misalnya kepada sesama teman taḥfidẓ atau kepada senior yang lebih lancar merupakan hal yang positif. Sebab, kegiatan tersebut merupakan salah satu metode untuk tetap menjaga hafalan Al-Qur’an, serta agar bertambah lancar sekaligus mengetahui letak ayat-ayat yang salah ketika proses hafalan. Dengan cara ini, orang lain bisa membenarkannya jika terjadi kesalahan dalam bacaan. Simaan Al-Qur’an dapat dilakukan kapan saja, dan dianjurkan mempunyai pasangan simaan. Agar dapat membantu dalam proses untuk memperlancar dan menguatkan hafalan Al-Qur’an. [2] Muroja’ah dalam model ini juga mengagendakan program tahunan dengan mengadakan haflah yang berisikan mengkhatamkan Al-Qur’an 30 juz oleh para santri yang sudah selesai menghatamkan Al-Qur’an. Setelah selesai membacanya, santri akan diberikan penghargaan. Tentunya acara ini dihadiri oleh orangtua atau wali santri. Haflah ini diadakan jika ada santri yang khatam menghafal Al-Qur’an dengan menggunakan model pembelajaran ini. Jika belum ada tidak perlu diadakan.
- Metode Mudarasah (Metode Menghafal Secara Bergantian/Saling Menyimak Antar Siswa)
Dalam model pembelajaran ini sebelum hafalan disetorkan kepada guru/ pembimbing, santri harus memastikan hafalan yang sudah didapatkannya terhafal dengan lancar. Hal ini dilakukan dengan cara saling menyimak dengan teman. Proses ini diterapkan karena untuk memudahkan guru/ pembimbing ketika menyimak hafalan, juga untuk melatih santri ketika menghafal didepan guru/ pemimbing.
5. Metode Tafhim (Menghafal Dengan Cara Memahami Makna Ayat)
Penggunaan irama nahâwand dalam proses taḥsin dan taḥfiẓ adalah untuk memberikan pemahaman kepada para penghafal bahwa apa yang ada dalam Al-Qur’an adalah benar-benar kalamullah yang harus dilaksanakan. Irama nahâwand yang berciri khas syahdu dan sedih ini mengingatkan bahwa para penghafal hendaknya melaksanakan atau mengamalkan apa yang ia hafalkan dan ia baca. Setiap penghafal ketika melaksanakan taḥsin dengan pembimbing, akan diberikan penjelasan ayat yang mereka hafal tentang tafsirnya. Kitab tafsir yang dipakai adalah tafsir jalalain. Pengajian kitab tafsir jalaain ini bisa juga diterapkan 1 hari dalam seminggu. Pada model pembelajaran ini, kitab tafsir jalalain dibahas pada jumat ba’da subuh. Sebelum mengkaji tafsirnya, tentunya akan dibaca terlebih dahulu ayat Al-Qur’an nya dengan irama nahâwand.
[1] Alfian Nurul Khoirulloh dkk, “Strategi Menghafal Al-Qur’an Santri Pondok Pesantren Taḥfiẓul Qur’an Griya Qur’an 3 Klaten”, Attractive: Innovative Education Journal, Vol 5, Edisi No 4, (2023): 26
[2] Rizka Sari, “Implementasi media audio visual dalam pembelajaran istima” Jurnal of arabic studies, Vol 2 Edisi No 2 (2020): 125




