Strategi Pembelajaran Taḥsin dan Taḥfiẓ Al-Qur’an Berbasis Irama Nahâwand


File Unduh di Sini

Keberhasilan pembelajaran taḥfiẓ quran ditentukan oleh srategi pembelajarannya, banyak motode yang bisa kita gunakan dalam mencapai pembelajaran taḥfiẓ quran, dan penggunaan motode ini disesuaikan dengan peserta didik/santri yang kita hadapi. Selain strategi pembelajaran yang tepat, yang sangat penting ditanamkan kepada peserta didik adalah tentang niat dan keikhlasan dalam menghafal. Karena Al-Quran adalah firman Allah yang agung.

Strategi pembelajaran adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang didesain oleh guru dan dilaksanakan oleh siswa dan guru didalam kelas untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. [1]Strategi pembelajaran adalah rencana, motode atau rangkaian aktivitas yag direncanakan secara matang dan terstruktur dalam mengembangkan potensi dan perubahan perilaku peserta didik. Strategi ialah satu diantara unsur pembelajaran serta mempunyai peran yang begitu krusial untuk mensukseskan perolehan pembelajaran yang dikehendaki.

Ditinjau berdasarkan pembelajaran mana saja maka tidaklah ditemukan satu pun aktivitas pembelajaran yang terlepas dari strategi karena strategi ialah perancangan guna menggapai target yang dikehendaki melalui tahapan- tahapan tertentu.[2] Sehingga Pesantren, mudir serta ustadz maupun pengampu sebuah halaqah taḥfiẓ wajib sungguh-sungguh mengerti strategi apakah yang hendak digunakan Pesantren serta santrinya untuk menghafalkan sebagai metode motivasi yang memberikan kemudahan mereka untuk menghafalkan.[3]

Diantara ranah guna menggapai kesuksesan menghafalkan Al-Qur’an ialah bagaimanakah strategi untuk menghafalkannya. Strategi yang tepat dapat memberi perolehan yang tepat pula. Strategi ini pastilah didapati pada institusi yang menjadikan hafalan Al-Qur’an sebagai programnya. Program tersebut umumnya kita kenali dengan taḥfiẓul Qur’an yang dirancang dengan khusus guna mentadaburi Al-Qur’an.

Langkah paling baik untuk mendapatkan perolehan yang baik saat menghafal ialah memiliki jadwal khusus saat menghafal sehingga target yang hendak dihafalkan telah ditetapkan serta apa sajakah yang wajib dihafalkan ketika hari tersebut, melalui langkah penjadwalan rutin serta teratur sehingga tahapan menghafal dapat terlaksana secara baik serta istiqomah. [4] Pada umumnya strategi pembelajaran agar murid aktif dan untuk mencapai tujuan diantaranya adalah refleksi, pertanyaan, membuat rangkuman dan pemetaan kognitif. [5] Strategi pembelajaran taḥsin dan taḥfiẓ Al-Qur’an berbasis nahâwand adalah sebagai berikut:

  1. Menentukan waktu yang tepat.

Waktu harus diatur sedemikian rupa tanpa menganggu jam pelajaran yang lain/ tidak berbarengan dengan aktivitas berat. Pemilihan waktu yang tepat akan menunjang konsentrasi santri dalam memperbaiki bacaan dan menghafal Al-Qur’an. menghilangkan kejenuhan dan memperbarui semangat. Waktu yang diatur dalam model ini untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an adalah di pagi hari sebelum kegiatan yang lain dimulai, misalnya jam 06.00 sampai jam 07.00. Jika santri hanya fokus menghafal tidak sekolah atau kuliah, maka waktu yang harus dipilih untuk menghafal Al-Qur’an adalah pukul 16.00 di sore hari atau sebaiknya di malam hari antara Maghrib dan Isya setelah selesai menghafal dilanjut dengan proses setoran kepada pembimbing taḥfiẓ. ketika melaksanakan salat malam (qiyam al-lail) adalah waktu untuk megulang hafalan. Dengan demikian waktu pelaksanaan pembelajarantaḥsin dan taḥfiẓ berbasis nahâwand ini adalah sesuai waktu-waktu tersebut.

 

  1. Memilih tempat dan lingkungan yang baik dan suci seperti masjid atau mushalla.

lingkungan adalah suatu faktor yang mempunyai peranan yang sangat penting terhadap berhasil tidaknya pendidikan agama.[6] Proses pembelajaran taḥsin dan taḥfiẓ Qur’an berbasis nahâwand ini harus ditempat tempat yang baik. Karena irama nahâwand yang mengajak para penghafal Qur’an untuk mentadaburi ayat Al-Qur’an agar terlaksana. Selain itu, dalam pelaksanaan pembelajaran taḥsin dan taḥfiẓ Qur’an berbasis irama nahâwand ini sebaiknya di laboratorium khusus untuk menghafal Al-Qur’an yang dirancang sedemikian rupa supaya nyaman, sejuk, dan hening.

Akan sangat baik pula jika ditunjang dengan fasilitas dan alat-alat seperti rekaman ayat Al-Qur’an dengan irama nahâwand dan papan tulis untuk memudahkan instruktur dan peserta didik dalam proses pembelajaran taḥsin dan hafalan Al-Qur’an. Adapun bentuk fasilitas produk yang disediakan adalah aplikasi berbasis web.

  1. Menentukan materi yang dihafal.

Ayat-ayat Al-Qur’an yang akan dihafal akan disusun secara berkala. Ditambah dengan pembahasan ilmu tajwid yang berkenaan dengan ayat tersebut. Materi dalam taḥsin dalam model ini akan mengikuti materi hafalan yaitu dimulai dari surah Al-Fâtihah berlanjut ke juz 30 dimulai dari surah An-Nas. Ayat-ayat yang dihafal dan disetorkan setiap hari harus secara bertahap sesuai runtutan ayat.

  1. Mengaktifkan dan memperkuat peran instruktur taḥfiẓ

Dalam membimbing dan memotivasi siswa penghafal Al-Qur’an harus diaktifkan dan diperkuat intruktur aḥfiẓnya. Dengan demikian para instruktur taḥfiẓ harus faham lebih awal model pembelajaran ini sebelum para santri atau murid.

  1. Meningkatkan volume dan intensitas keterlibatan guru taḥfiẓ/

Pelatih model pembelajaran ini secara langsung dalam membimbing santri yang harus dilakukan secara istiqamah. Keterlibatan langsung seorang guru dalam aktivitas menghafal berpengaruh kuat kepada santri. Intensitas interaksi antara guru taḥfiẓ dan santri diperlukan supaya terjalin komunikasi yang erat. Oleh karena itu, jika seorang pembimbing taḥfiẓ tidak menjalankan tugasnya dengan optimal yakni mengarahkan, memotivasi, dan mengontrol maka program yang telah direncanakan tidak bisa berhasil dengan optimal. Untuk mengatasi kelemahan tersebut, maka perlu dilakukan beberapa strategi berikut:

 

1). Pembimbing taḥfiẓ/ guru taḥfiẓ harus memahami tugas dan perannya dengan baik sebagai pemimpin sekaligus manajer.

2).  Harus menjalankan tugas dan perannya dengan baik dan optimal   yakni memberikan pengarahan, memotivasi, menggerakkan dan melakukan kontrol baik secara langsung maupun tidak langsung. Penghafal Qur’an dapat dimudahkan melalui strategi yang dipakai terlebih guna menggapai target hafalan yang telah ditetapkan, diantara strategi yang dapat dipergunakan ialah:

a). Strategi pengulangan berganda. Melalui pengulangan beberapa kali ayat yang hendak dihafal terlebih lokasi dari sebuah ayat saat melaksanakan pengulangan memberi gambaran dengan langsung pada ayat yang ia hafal, dan memberi keterampilan dengan langsung pada ketrampilan lisan untuk melaksanakan langkah apakah yang ia hafalkan guna dikeluarkan sebagai langkah mengeluarkan apakah yang ia hafal

b).     Menghafal ayat yang dihafal hingga sungguh-sungguh hafal serta tidaklah diperbolehkan berpindah kepada ayat setelahnya. Strategi ini digunakan guna lebih cermat serta teliti untuk menghafalkan ayat ataupun kalimat dalam ayat ia hafal, terlebih ayat yang panjang. Saat berpindah begitu signifikan adapun ayat yang dihafalkan belumlah kokoh sehingga akan menganggu kelancaran serta langkah menghafal ayat setelahnya terlebih saat muraja’ah

3)  Mengurutkan tiap ayat yang dihafalkan menjadi satu terlebih pada penguatan hafalannya. langkah ini dipakai terhadap Al-Qur’an standar di mana Al-Qur’an ini mempunyai total baris yang serupa tiap lembarnya serta total juz yang serupa dalam tiap juznya. Dalam setiap lembar selalu dimulai melalui awal ayat serta diakhir lembar kerap disudahi melalui akhir ayat hingga membantu langkap mengurutkan ayat yang dihafalkan serta menyatukannya pada satu halaman, serta Al-Qur’an ini memberi kemudahan dikarenakan ada pertanda visual yang memberi kemudahan untuk menghafalkan Al-Qur’an

4)  Memakai satu jenis mushaf. Sebenarnya tidaklah terdapat kewajiban guna memakai satu jenis mushaf namun terdapat pengaruh yang signifikan terhadap sisi visual pemakaian satu mushaf hingga dapat memberi kemudahan serta fokus lebih pada para penghafal

5)    Menguasai setiap ayat yang ia hafal. Menguasai diawali dari kalimat, artinya, struktural linguistiknya dalam ayat memberi kemudahan terlebih pada percepatan penghafalan karena memahami maksud dari apakah yang dia baca

6)   Mencermati ayat-ayat yang sama. Banyak kekhasan yang terdapat pada Al-Qur’an terlebih berdasarkan sisi linguistiknya, hingga banyak lafal, arti dan susunan perkataannya serupa antar satu dan yang lain hingga menimbulkan keindahan serta mewajibkan penghafal agar teliti terhadap ayat yang sama

7) Setoran hafalan pada muhaffiẓ. Langkah menghafalkan Al-Qur’an memanglah begitu dibutuhkan pengampu guna menerima setoran hafalan, dimana pengampu tahfiz ialah ustadz pembimbing saat menghafalkan Al-Qur’an. Sosok pembimbing taḥfiẓ wajib sungguh- sungguh menguasai strategi menghafalkan Al-Qur’an agar memberi misal serta dapat memberi arahan pada calon hafidz Al-Qur’an.[7]

[1] Sunhaji Sunhaji, “Strategi Pembelajaran: Konsep dan Aplikasinya”, INSANIA: Jurnal Pemikiran Alternatif Kependidikan, vol 13, no. 3 (2008): 474–92, https://doi.org/10.24090/insania.v13i3.310.

[2] Hafidz, “Implementasi Totalquality Management (TQM) Di Madrasah Ibtidaiyah Darul Huda Yogyakarta”, As-Sibyan, vol 3, no. 2, (2021): 37

[3] Alfian Nurul Khoirulloh et al, “Strategi Menghafal Al-Qur’an Santri Pondok Pesantren Taḥfiẓul Qur’an Griya Qur’an 3 Klaten”, Attractive : Innovative Education Journal Vol 5, no. 2, (July 2023): 868

[4] Nashihin et al, “Teori dan Analisis Wacana Keadilan serta Kesetaraan Gender pada Perempuan”. Attractive : Innovative Education Journal, vol 4, no. 1, (2022): 5

[5] Sholeh Hidayat, “Sistem Pembelajaran di Perguruan Tinggi“ Al-Qalam, vol 19, no. 93, (April Juni, 2002): 130

[6] Nurul Hidayah, “Strategi Pembelajaran Taḥfiẓ Al-Qur’an Di Lembaga Pendidikan” Ta’allum, Vol 04, Edisi 01, (Juni, 2016): 12

[7] Alfian Nurul Khoirulloh et al, “Strategi Menghafal Al-Qur’an Santri Pondok Pesantren Taḥfiẓul Qur’an Griya Qur’an 3 Klaten”, Attractive : Innovative Education Journal, Vol 5, no. 2, (July 2023): 870